Jakarta, NusantaraGate.com – Tren olahraga raket di Indonesia tengah mengalami masa keemasan yang luar biasa. Setelah bulu tangkis yang selalu menjadi primadona, kini muncul olahraga pickleball yang siap merebut hati masyarakat luas.
Kombinasi unik antara tenis, bulu tangkis, dan tenis meja ini menawarkan ritme permainan yang sangat menyenangkan. Olahraga ini juga sangat inklusif untuk segala usia dan jauh lebih ramah terhadap persendian.
Pamor pickleball di Tanah Air saat ini memang masih harus berjuang mengimbangi kepopuleran padel. Namun, Pengurus Besar Indonesia Pickleball Federation (PB IPF) terus meracik berbagai manuver agresif untuk memperkenalkannya.
Sejarah Singkat Pickleball
Banyak yang mengira pickleball adalah olahraga modern yang baru ditemukan dalam dekade terakhir. Faktanya, sejarah mencatat bahwa olahraga ini diciptakan pertama kali pada musim panas tahun 1965 di Amerika Serikat.
Tiga orang sahabat bernama Joel Pritchard, Bill Bell, dan Barney McCallum adalah penemu permainan raket ini. Kisah penciptaannya bermula dari niat sederhana untuk mengusir kebosanan anak-anak mereka di akhir pekan.
Karena tidak menemukan peralatan bulu tangkis lengkap, mereka akhirnya berimprovisasi menggunakan barang seadanya. Mereka memanfaatkan net bulu tangkis yang diturunkan, pemukul dari kayu, dan sebuah bola plastik berlubang.
Berawal dari keisengan di halaman belakang rumah, mereka kemudian mulai merumuskan aturan main secara resmi. Setengah abad berlalu, inovasi sederhana itu kini menjelma menjadi olahraga dengan pertumbuhan pemain tercepat di dunia.
Tradisi Baru Ngabuburit Sehat
Antusiasme PB IPF dalam menyosialisasikan pickleball tidak pernah surut meski memasuki bulan suci Ramadan. Mereka justru menjadikan momen puasa untuk memperkenalkan gaya hidup baru berupa ngabuburit sambil bermain pickleball.
Kegiatan santai namun penuh keringat ini digelar secara meriah bersama jajaran pengurus serta awak media. Acara tersebut berlangsung di lapangan VATA Courts, kawasan Kemang, Jakarta Selatan pada Selasa (3/3/2026) sore.
Wakil Ketua Umum PB IPF, Harlin Rahardjo, memaparkan bahwa pickleball adalah pilihan logis untuk berolahraga saat puasa. “Ini tradisi baru di Ramadhan tahun ini-ngabuburit main pickleball,” ujar Harlin.
”Kita ingin mengenalkan cara bermain, aturan, sekaligus rasa fun dan kegembiraan olahraga ini. Pickleball cocok untuk ngabuburit karena tidak terlalu intens, tidak menguras tenaga, gerakannya ringan, tapi tetap aktif dan menyehatkan,” tambahnya.
Ekspansi Fasilitas dan Turnamen
Seiring dengan makin tingginya animo masyarakat, tantangan terbesar yang dihadapi adalah ketersediaan fasilitas lapangan. Harlin memaparkan bahwa pihaknya akan terus memperluas jangkauan dengan membangun pusat olahraga baru di Jakarta dan Jawa Barat.
Dalam waktu dekat, sebuah gebrakan besar akan direalisasikan di kawasan Pengadegan, Pancoran, Jakarta Selatan. Sebanyak lima lapangan pickleball akan dibuka dan digadang-gadang bakal menjadi sentra terbesar di ibu kota.
Selain itu, ekspansi yang lebih masif juga menyasar kawasan Kota Wisata Cibubur melalui proyek Nikavata Sports Lab. Kawasan olahraga terpadu berskala besar ini tidak hanya menyediakan dua lapangan pickleball kelas standar.
Fasilitas tersebut juga dilengkapi dengan dua lapangan tenis, dua lapangan padel, area gimnastik, hingga kolam renang. Tentu saja, pembangunan infrastruktur ini harus diimbangi dengan iklim kompetisi yang sehat agar pemain bisa berkembang.
”Hampir setiap bulan sekarang ada kejuaraan antar komunitas di lapangan-lapangan pickleball. Ini akan terus kita dorong di seluruh provinsi agar pickleball semakin dikenal dan digemari,” kata Harlin.
Membidik Generasi Muda di Sekolah
Selain mengandalkan komunitas amatir, PB IPF kini menaruh fokus yang sangat besar pada program pembinaan usia dini. Harlin menilai bahwa pickleball adalah olahraga yang paling mudah diadaptasi ke dalam kurikulum pendidikan.
Alasannya sangat praktis karena ukuran lapangan pickleball setara persis dengan lapangan bulu tangkis ganda. Artinya, pihak sekolah hanya perlu menurunkan ketinggian net dan menyesuaikan garis batas lapangannya saja.
”Pickleball cocok dimainkan di sekolah. Kita ingin ada kejuaraan beregu antar sekolah, terbuka untuk siapa saja,” ungkap Harlin.
”Dengan begitu, pembinaan usia dini bisa tumbuh di seluruh Indonesia,” imbuhnya memaparkan visi masa depan federasi.
Harapan dan Dukungan Lintas Sektoral
Harlin membayangkan ekosistem pickleball di tingkat pelajar kelak bisa tumbuh menjadi industri kompetisi yang besar. Ia berharap kemeriahannya bisa menyamai liga basket sekolah bergengsi yang selalu dipadati suporter setia.
Namun, IPF menyadari bahwa impian besar ini membutuhkan dukungan penuh dari berbagai elemen masyarakat. Kolaborasi sangat diharapkan dari guru olahraga, kepala sekolah, pemerintah daerah, hingga peran krusial awak media.
”Saya butuh dukungan semua pihak, termasuk rekan-rekan wartawan, agar sosialisasi berjalan luas dan meriah. Tujuannya sederhana: pickleball dikenal masyarakat, digemari lintas usia, dan menjadi bagian dari gaya hidup se hat Indonesia,” pungkasnya.

.jpg)
.jpg)





