Kota Semarang, NusantaraGate.com – Memasuki puncak musim kemarau, potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di sejumlah wilayah Jawa Tengah terus meningkat. Salah satu kejadian terbaru melanda kawasan Petak 32 Perhutani Banyumas Barat, Desa Tipar Kidul, Kabupaten Banyumas, Kamis (30/7/2026).
Saat itu, jajaran Polsek Ajibarang Polresta Banyumas bersama aparat Forkopimcam setempat bergerak cepat ke lokasi. Mereka langsung bahu-membahu memadamkan api agar tidak menyebar.
Berkat sinergi seluruh unsur yang terlibat, kobaran api berhasil dipadamkan secara total sekitar pukul 14.02 WIB. Respons cepat tersebut menjadi bagian dari upaya meminimalkan dampak kebakaran sekaligus melindungi kawasan hutan dari kerusakan luas.
Selain di Banyumas, karhutla juga terjadi di sejumlah wilayah lain di Jawa Tengah dalam sepekan terakhir. Peristiwa tersebut tercatat terjadi di wilayah Kabupaten Wonogiri, Sukoharjo, Pati, dan Grobogan.
Seluruh kejadian darurat tersebut berhasil ditangani dengan cepat oleh para petugas gabungan. Rentetan peristiwa ini menjadi pengingat bahwa kewaspadaan masyarakat sangat dibutuhkan untuk mencegah meluasnya karhutla selama kemarau.
Di Kabupaten Wonogiri, kebakaran hutan rakyat sempat terjadi pada 22 Juli 2026 di Desa Tempursari, Kecamatan Sidoharjo. Berkat kerja sama solid Polri, TNI, BPBD, dan masyarakat setempat, kobaran api sukses dijinakkan sebelum merambat jauh.
Peristiwa serupa juga turut melanda sejumlah titik di Kabupaten Sukoharjo dan Grobogan. Petugas gabungan bergerak cepat melakukan pemadaman dan pendinginan sehingga amukan api dapat segera dikendalikan.
Sementara itu, jajaran Polresta Pati secara aktif menindaklanjuti sejumlah titik panas (hotspot) yang terpantau pada 29–30 Juli 2026. Pantauan melalui citra satelit NASA dan aplikasi Sipongi tersebut mendeteksi hotspot di wilayah Kayen, Sukolilo, Pucakwangi, dan Wedarijaksa.
Hasil pengecekan di lapangan menunjukkan sebagian besar pantauan panas tersebut berasal dari pembakaran sisa hasil pertanian. Material yang dibakar meliputi daun tebu, batang jagung, janggel jagung, maupun semak belukar yang telah padam.
Meski demikian, petugas tetap melakukan penyisiran menyeluruh untuk memastikan tidak ada bara api yang masih tersisa. Langkah ini diiringi edukasi langsung kepada masyarakat agar tidak lagi membuka lahan dengan cara membakar.
Belajar dari sejumlah kejadian tersebut, Kabid Humas Polda Jateng, Kombes Pol. Yuliyanto, menegaskan komitmen penanganan dari kepolisian. Seluruh jajaran Polres kini telah diinstruksikan untuk terus memperkuat langkah-langkah pencegahan di lapangan.
Peningkatan patroli diinstruksikan menyasar langsung kawasan hutan, perkebunan, dan lahan pertanian. Wilayah rawan kebakaran lainnya selama musim kemarau juga akan mendapat perhatian ekstra.
”Selain melakukan patroli, pemantauan hotspot berbasis data satelit juga terus dioptimalkan. Setiap titik panas yang terdeteksi segera diverifikasi oleh personel di lapangan agar kondisi sebenarnya dapat diketahui secepat mungkin, Langkah ini dilakukan untuk memastikan setiap potensi kebakaran dapat ditangani sejak dini sebelum berkembang menjadi kebakaran yang lebih besar ” ungkapnya, Jumat (31/7/2026).
Lebih lanjut, Kombes Pol. Yuliyanto mengatakan bahwa sebagian besar kebakaran lahan berawal dari aktivitas manusia. Hal ini sering terjadi akibat kurangnya kepekaan terhadap faktor keselamatan saat membersihkan lahan atau membakar sisa panen.
”Musim kemarau ditambah hembusan angin, api yang awalnya kecil bisa dengan cepat merambat dan sulit dikendalikan. Karena itu kami mengimbau masyarakat agar tidak membakar lahan maupun sisa hasil pertanian tanpa pengawasan. Kalau memang terpaksa dilakukan, pastikan benar-benar aman dan jangan meninggalkan lokasi sebelum api benar-benar padam,” ujar Kombes Pol. Yuliyanto.
Ia menambahkan bahwa Polda Jateng akan terus memantau hotspot dan mempererat koordinasi lintas sektoral. Keterlibatan BPBD, TNI, Perhutani, pemerintah daerah, hingga kelompok masyarakat dinilai sangat krusial.
Menurutnya, keberhasilan mencegah karhutla tidak hanya bergantung pada langkah taktis aparat kepolisian. Hal tersebut juga sangat membutuhkan tingkat kesadaran dan partisipasi aktif dari seluruh elemen masyarakat.
” Selain merusak lingkungan Karhutla juga dapat mengganggu kesehatan, merugikan sektor pertanian, bahkan membahayakan keselamatan jiwa. Karena itu kami mengajak seluruh masyarakat untuk lebih peduli terhadap lingkungan sekitar. Apabila melihat adanya titik api atau kepulan asap, segera laporkan kepada kepolisian atau instansi terkait agar dapat segera ditangani. Dengan kepedulian dan kerja sama seluruh elemen masyarakat, kita dapat mencegah karhutla dan menjaga Jawa Tengah tetap aman serta kondusif,” pungkasnya.

.jpg)
.jpg)





