banner 728x250

Kronologis Lengkap Pembunuhan Mozza Axillia, Sempat Dilaporkan Hilang

Mozza Axillia Gunarsa (17), hilang sejak 25 Juni 2025. Ia rupanya dibunuh oleh Mahendra Very Dwi Anggara (22). Begini kronologisnya.

Semarang, NusantaraGate.com – Pertanyaan Singgih Datya Gunarsa selama 1 tahun 3 bulan tentang keberadaan putrinya, Mozza Axillia Gunarsa (17), telah terjawab. Putri pertamanya telah dia jemput pulang dari Kota Semarang menuju rumahnya di Bergas, Kabupaten Semarang, meski dalam keadaan tak bernyawa dan tinggal kerangka tulang.

Peristiwa memilukan ini bermula pada 25 Juni 2025 lalu. Mozza sempat berpamitan pergi pada ayahnya melalui pesan WhatsApp.

“Yah, kakak keluar sm mbak ayuk ke rumah tmn mb ayuk yg dikodam, nganter laptop mau dipinjam tmn mbk ayuk,” tulis pesan yang dikirim Mozza.

Singgih membalas pesan itu dengan satu kata, “YA”. Ia tak pernah menyangka pesan itu menjadi percakapan terakhir mereka.

Di lain sisi, Ayuk, perempuan yang dicatut namanya oleh Mozza mengaku tidak memiliki janji apapun dengan Mozza pada hari itu.

Rupanya, hari itu, Mozza pergi menemui seorang laki-laki pengangguran asal Blora bernama Mahendra Very Dwi Anggara (22) di sebuah indekos Gang Garuda, Tegalsari, Candisari, Kota Semarang.

Mozza mengenal Very dari TikTok pada Mei 2025. Hubungan keduanya semakin intens hingga sebelum 25 Juni 2025, Mozza sempat sekali datang ke kos yang sama untuk bertemu Very, lalu pulang.

Keluarga Mozza tidak tahu menahu soal hal ini. Jangankan soal Mozza yang main ke kos laki-laki, keluarga juga tidak mengetahui apalagi mengenal sosok Very.

Dalam pengakuan Very kepada penyidik, pada 25 Juni 2025, Mozza datang ke kamar kosnya. Dia lalu membuka ponsel Mozza dan mendapati ada chat dengan pria lain selain dirinya.

Rasa cemburu Very bergejolak. Keduanya lalu terlibat cekcok sekitar pukul 14.00 WIB. Very mengaku Mozza sempat memukulnya dalam pertengkaran itu.

Very lalu kesetanan. Dia lantas membekap mulut dan hidung Mozza selama kurang lebih tujuh menit dengan tangan kosong. Tubuh mungil Mozza tidak bisa melawan, ia lalu lemas dan tidak sadarkan diri.

Very bukannya buru-buru membawa Mozza ke rumah sakit. Dia justru keluar membeli tali rafia dan membungkus makanan. Very kembali lagi ke kamar kos dan makan di samping tubuh Mozza yang sudah tidak bergerak.

Setelahnya, Very kembali keluar. Bukan untuk mencari pertolongan, dia justru mencari tempat untuk membuang perempuan itu.

Very lalu mendapatkan lokasinya, di jalan dekat dengan Jembatan Candi Golf Boulevard arah ke SMPN 17 Semarang. Ia melihat lereng jalan tol Jangli yang ada tumbuhan rimbun dan area sekitarnya sepi, jarang ada orang.

Very kemudian kembali ke kamar kos nomor 8 di Gang Garuda itu. Mozza masih tergeletak tidak berdaya. Very bahkan tidak tahu apakah nyawa Mozza masih ada atau telah meninggal dunia.

Ia menekuk tubuh Mozza, memasukannya ke dalam kardus air mineral, dan mengikatnya. Kardus itu lalu ditutup menggunakan lakban dan dimasukkan ke dalam karung yang kemudian diikat.

Very memperlakukan karung berisi manusia itu layaknya paket ekspedisi, membawanya turun dari lantai dua, dan meletakannya di sepeda motor milik Mozza. Dia lalu membawa tubuh perempuan itu menuju lokasi pembuangan dan membuangnya sekitar pukul 18.30 WIB.

Untuk menghilangkan jejak, Very pergi dari rumah kos itu. Dia mengemasi barang-barangnya, lalu sempat pergi ke tempat seorang temannya untuk beberapa saat sebelum kembali pulang ke Blora.

Selain itu, Very menjual sepeda motor Mozza melalui Facebook kepada seseorang di Banyumanik seharga Rp 6 juta. Ponsel Mozza juga direset dan dibuang di Kota Lama, sementara kartu identitas Mozza dibuang terpisah di wilayah Jalan Dr Cipto.

Very melenggang bebas selama lebih dari satu tahun. Tak ada rasa bersalah pada dirinya. Selama pelarian itu, dia sempat piknik ke Bali dan main sepeda motor jamet di Blora sebagaimana dilihat pada akun TikToknya.

Di lain sisi, ayah Mozza, Singgih, terus diliputi rasa khawatir dan cemas karena putrinya tidak kunjung pulang. 28 Juni 2025, dia secara resmi melaporkan anaknya yang hilang ke Polres Semarang.

Tak hanya berpangku tangan mengandalkan polisi, Singgih begitu gigih menyebarkan informasi hilangnya Mozza kepada siapapun. Akun-akun sosial media besar dan para wartawan dia hubungi, berharap ada orang yang membaca dan bisa memberitahu di mana Mozza berada.

Hingga pada November 2025, Singgih mengutak-atik tablet Mozza yang pernah diperiksa polisi namun tidak ditemukan apa-apa. Rupanya, Singgih lebih jeli. Dia mendapati ada email Mozza yang terkoneksi dengan akun Instagram dan TikTok-nya.

Singgih lalu mereset password akun media sosial Mozza. Dia berselancar membaca seluruh isi pesan di Instagram dan TikTok putrinya.

Kecurigaan Singgih mengarah kepada sebuah akun kosong misterius yang kerap berinteraksi intensif dengan Mozza hingga 22 Juni 2025, tiga hari sebelum putrinya hilang. Berkat kejelian Singgih, dia bisa mengetahui akun itu merupakan milik pria asal Blora bernama Very Anggara.

Singgih juga mendapatkan informasi tentang kos yang disewa Very di Jalan Garuda. Dia sempat mendatangi kos itu, bertanya kepada pemilik kos, dan masuk ke dalamnya untuk melacak jejak Mozza.

Namun tidak ada bukti apapun yang ditemukan Singgih. Dia pulang dengan tangan hampa dan belum bisa membuktikan Very terkait dengan kasus putrinya yang hilang.

Temuan ini juga telah dilaporkan kepada polisi, namun menurutnya, tidak begitu ditanggapi. Sehingga, setiap Singgih ke Kota Semarang, dia hanya bisa selalu melewati depan kos itu, berharap tiba-tiba melihat Mozza atau sepeda motornya terparkir di depannya.

Setahun setelah Mozza menghilang, tepatnya awal Juli 2026, wartawan kembali memberitakannya. Polisi bilang pencarian Mozza masih terus dilakukan.

Direktorat Reserse Kriminal Umum, Direktorat Reserse Perlindungan Perempuan dan Anak serta Pemberantasan Perdagangan Orang, hingga Direktorat Reserse Siber di tingkat Polda Jawa Tengah disebut turut bergerak melakukan pendalaman.

Berbekal petunjuk yang ditemukan Singgih, polisi berhasil melacak Very. Dia ditangkap di Banjarejo, Blora pada Kamis malam, 3 September 2026, setelah polisi melakukan pengintaian selama dua hari.

Dalam perjalanan menuju Polres Semarang, Very mengakui telah menghabisi nyawa Mozza. Dia lantas menunjukkan lokasi di mana Mozza dibuang.

Malam itu, mereka datang ke lokasi pembuangan Mozza. Namun karena lokasi yang curam dan visibilitas yang terbatas pada malam hari, evakuasi urung dilakukan.

Polisi kembali datang ke lokasi pada Jumat pagi, 4 September 2026. Dibantu oleh tim SAR, Mozza ditemukan dalam sebuah karung di lereng jalan tol Jangli dalam bentuk tulang belulang.

Keluarga pertama kali mengetahui penemuan kerangka Mozza dari seorang teman di Salatiga yang mengenal anggota Resmob Polrestabes Semarang. Mereka sangat terkejut dan syok dengan kabar itu.

Pada hari yang sama, keluarga sudah ada janji dengan Resmob Polres Semarang untuk mengambil tablet milik Mozza yang telah selesai diperiksa kembali. Singgih lalu bilang ke polisi di Ungaran jika keluarga sudah tahu kabar ditemukannya Mozza.

Bersama polisi, keluarga lalu berangkat ke RS Bhayangkara Semarang untuk mengidentifikasi temuan kerangka tulang itu. Keluarga membenarkan bahwa temuan itu adalah Mozza, setelah melihat struktur gigi yang gingsul dan ada tambalan, serta jepit rambut yang turut ditemukan.

Malam itu juga, Mozza dibawa pulang dan dimakamkan dengan layak di tempat pemakaman umum desa. Suasana duka dan isak tangis pelayat mengiringi prosesi itu.

Sabtu, 5 September 2026, polisi buka suara soal kasus ini. Polisi sementara memiliki kesimpulan bahwa motif kejahatan ini karena cemburu.

Kendati demikian, sembari mendalami bukti-bukti dan para saksi, polisi tidak menutup kemungkinan bahwa kasus ini dilatarbelakangi persoalan ekonomi, termasuk kemungkinan bahwa kasus ini merupakan pembunuhan berencana.

Polisi menjerat Very dengan pasal tindak pidana kekerasan terhadap anak yang mengakibatkan meninggal dunia dan atau pembunuhan. Ancaman hukuman maksimalnya yakni 15 tahun penjara.

Catatan: Narasi di atas merupakan pengolahan hasil wawancara Tim NusantaraGate dengan; ayah Mozza, Singgih Datya Gunarsa; Kasat Reskrim Polres Semarang, AKP Bodia Teja  Lelana; dan Kasat Res PPA-PPO Polrestabes Semarang, Kompol Ni Made Srinitri.

NusantaraGate.com Avatar

Gerbang informasi terkini seputar berita peristiwa di Indonesia dan mancanegara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *