banner 728x250

Catat! Ini Waktu Terbaik Ngegym di Bulan Puasa Menurut Dokter Olahraga

Bingung kapan waktu terbaik nge-gym saat puasa? Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Andhika Raspati, SpKO, membeberkan 3 opsi waktu terbaik beserta plus minusnya.

Foto: Gemini AI

Jakarta, NusantaraGate.com – Datangnya bulan Ramadan sering kali membuat para pegiat kebugaran (fitness enthusiast) dilema. Rasa takut lemas, dehidrasi, atau kehilangan massa otot membuat banyak orang memilih untuk “cuti” dari aktivitas gym selama berpuasa. Padahal, berhenti total justru bisa membuat kebugaran tubuh menurun drastis.

​Dokter Spesialis Kedokteran Olahraga, dr. Andhika Raspati, SpKO, menegaskan bahwa puasa bukanlah alasan untuk berhenti berolahraga. Tubuh tetap membutuhkan aktivitas fisik untuk menjaga metabolisme. Namun, kunci utamanya adalah penyesuaian waktu dan intensitas latihan.

​Lantas, kapan waktu paling ideal untuk mengangkat beban atau kardio selama bulan puasa? Berikut penjelasannya.

​Opsi 1: Pagi Hari Setelah Sahur

​Bagi Anda yang terbiasa bangun pagi, waktu setelah sahur bisa menjadi pilihan yang menarik. Menurut dr. Andhika, keuntungan utama latihan di waktu ini adalah ketersediaan energi.

​”Latihan pagi boleh nggak sih? Boleh, karena keuntungannya kita habis sahur energi masih banyak, habis makan dan minum,” jelas dr. Andhika.

​Namun, ada catatan penting yang harus diperhatikan. Karena durasi menuju waktu berbuka masih sangat panjang (lebih dari 12 jam), risiko dehidrasi menjadi musuh utama. Oleh karena itu, dokter menyarankan untuk memilih jenis latihan yang tidak memicu keringat berlebih.

​Latihan beban ringan di ruangan ber-AC atau workout intensitas rendah sangat disarankan. Hindari kardio intensitas tinggi yang menguras cairan tubuh agar tidak lemas di siang hari.

​Opsi 2: Sore Hari Menjelang Berbuka (Ngabuburit)

​Ini adalah waktu favorit banyak orang. Berolahraga sekitar 30–60 menit sebelum adzan Maghrib memiliki keuntungan psikologis dan fisiologis.

​Keuntungannya, Anda tidak perlu khawatir jika merasa haus atau lelah, karena waktu berbuka sudah dekat. Cairan tubuh yang hilang bisa segera digantikan begitu adzan berkumandang.

​Kendati demikian, dr. Andhika mengingatkan bahwa di jam-jam ini kondisi tubuh biasanya sedang berada di titik terendah (kadar gula darah turun).

​”Kebanyakan orang yang habis atau menjelang berbuka, kondisi tubuh sedang lemas,” ujarnya.

​Maka dari itu, disarankan untuk tidak memaksakan angkatan beban yang terlalu berat (Personal Record/PR). Fokuslah pada maintenance atau menjaga ritme latihan agar tetap aktif tanpa pingsan.

​Opsi 3: Malam Hari Setelah Berbuka

​Jika tujuan Anda adalah latihan intensitas tinggi atau angkat beban berat (heavy lifting), maka setelah berbuka puasa adalah waktu terbaik secara fisiologis.

​Pada fase ini, tubuh sudah mendapatkan kembali asupan nutrisi dan cairan (rehidrasi), sehingga glikogen otot sudah terisi kembali. Anda bisa membatalkan puasa dengan takjil ringan dan air putih, sholat Maghrib, lalu pergi ke gym.

​Namun, tantangan utamanya adalah manajemen waktu dengan ibadah Tarawih dan waktu tidur.

​”Masih banyak yang bingung untuk olahraga setelah berbuka puasa, karena waktunya yang mepet dengan waktu tarawih,” tambah dr. Andhika.

​Selain itu, olahraga terlalu larut malam juga berisiko mengganggu jam biologis tidur, padahal Anda harus bangun lebih awal untuk sahur.

​Strategi Nutrisi: Jangan Kalap!

​Terlepas dari waktu yang dipilih, dr. Andhika menekankan pentingnya disiplin nutrisi. Saat berbuka, hindari makan berlebihan (“balas dendam”) yang justru membuat perut begah dan malas bergerak.

​Terkait asupan protein untuk pembentukan otot, ia menyarankan untuk memenuhinya pada saat “jendela makan” (dari buka puasa hingga sahur).

​”Jadi ntar aja pas buka, lu kejar lagi kebutuhan protein,” sarannya.

​Kesimpulannya, waktu terbaik adalah waktu yang paling bisa Anda lakukan secara konsisten tanpa mengganggu ibadah dan waktu istirahat. Dengarkan tubuh Anda dan jangan memaksakan diri.

NusantaraGate.com Avatar

Gerbang informasi terkini seputar berita peristiwa di Indonesia dan mancanegara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *