Beijing, NusantaraGate.com – Eskalasi perang antara Amerika Serikat (AS) dan Israel melawan Iran mulai memukul urat nadi perdagangan energi global. Merespons krisis ini, China dikabarkan sedang menggelar perundingan intensif dengan Iran. Beijing mendesak Teheran agar kapal-kapal pengangkut minyak mentah dan gas alam cair (LNG), khususnya milik Qatar, diberikan jaminan jalur aman saat melintasi perairan Selat Hormuz.
Konflik bersenjata yang telah memasuki hari keenam sejak akhir Februari 2026 ini membuat Selat Hormuz nyaris berstatus tertutup total. Dampaknya sangat masif; banyak negara kini terancam krisis pasokan karena kehilangan akses terhadap sekitar seperlima total pasokan minyak dan LNG dunia.
Sebagai kekuatan ekonomi terbesar kedua di dunia yang sangat bergantung pada pasokan energi dari Timur Tengah, China dilaporkan sangat tidak nyaman dengan penutupan rute tersebut. Pasalnya, sekitar 45 persen pasokan minyak Negeri Tirai Bambu dikirim melalui Selat Hormuz. Oleh karena itu, China terus menekan Iran agar segera membuka keran izin aman bagi kapal-kapal migas.
Melansir laporan Reuters yang dikutip pada Jumat (6/3/2026), intervensi Beijing tampaknya mulai membuahkan hasil kecil. Data pelacakan kapal menunjukkan armada bernama Iron Maiden sukses menembus Selat Hormuz semalaman. Keberhasilan ini diduga terjadi setelah kapal tersebut mengubah sinyal identifikasinya menjadi “China-owner”. Kendati demikian, pasar energi global membutuhkan lebih dari sekadar satu kapal untuk bisa kembali tenang.
Kepanikan pasar terbukti dari meroketnya harga minyak mentah dunia hingga lebih dari 15 persen sejak konflik ini pecah. Lonjakan harga ini dipicu oleh terganggunya rantai pasok pasca-serangan ke sejumlah fasilitas energi di Teluk maupun kapal-kapal komersial. Jika dibiarkan berlarut, situasi ini dikhawatirkan akan memicu gelombang inflasi di berbagai negara.
Kondisi kelumpuhan perairan ini dipertegas oleh data pelacakan kapal dari Vortexa. Jumlah kapal tanker minyak yang berani melintasi Selat Hormuz anjlok drastis menjadi hanya empat kapal pada 1 Maret 2026, tepat sehari setelah konflik terbuka meledak. Angka ini merosot tajam jika dibandingkan dengan rata-rata lalu lintas pada Januari lalu yang mencapai 24 kapal per hari.

.jpg)
.jpg)





