Sigi, NusantaraGate.com – Di Desa Pulu, Kabupaten Sigi, Sulawesi Tengah, tanaman sereh wangi menyimpan makna yang lebih dalam dari sekadar aroma relaksasi. Di desa ini, sereh wangi menjadi tonggak utama pemulihan lahan yang rusak parah akibat hantaman banjir, sekaligus menjadi pilar kebangkitan ekonomi warganya.
Secara geografis, Desa Pulu berada di kawasan yang sangat rentan terhadap banjir pascagempa dan cuaca ekstrem. Sepanjang tahun 2020 hingga 2021, banjir berulang tak hanya menerjang permukiman, tetapi juga merusak lahan pertanian dan mengubah tanah subur menjadi hamparan pasir tandus.
Bencana tersebut berdampak langsung pada 1.365 jiwa dan menyumbang hampir 70 persen dari total nilai kerugian masyarakat. Bagi warga yang selama ini menggantungkan hidup pada pertanian skala kecil, kondisi alam yang rusak parah ini seolah menutup rapat pintu penghidupan mereka.
Melihat kondisi tersebut, Dilah Sahim, Direktur Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Pulu, mengambil langkah berani. Namun, alih-alih memikirkan profit, fokus pertamanya murni untuk pemulihan dan stabilisasi lahan.
Tanaman sereh wangi (citronella) pun diperkenalkan sebagai solusi ekologis. Tanaman ini memiliki daya tahan luar biasa untuk tumbuh di tanah berpasir yang miskin hara. Sistem perakarannya yang kuat, apabila dikombinasikan dengan bambu, terbukti efektif menahan laju erosi dan memperkuat bantaran sungai dari ancaman banjir.
”Di awal kami tidak berpikir soal bisnis sama sekali. Yang penting lahan aman dan tidak semakin rusak. Soal ekonomi, itu datang belakangan,” kata Dilah dalam keterangannya, Selasa (15/7/2026).

Lahirnya Lana Tumbavani dan Pasar Global
Seiring berjalannya proses pemulihan alam, potensi ekonomi itu akhirnya muncul. Daun sereh wangi yang ditanam warga ternyata dapat disuling menjadi minyak esensial (essential oil), bahan baku utama untuk berbagai produk spa dan perawatan tubuh kelas atas.
Dari sinilah unit usaha desa bernama Lana Tumbavani lahir. Nama ini diambil dari bahasa lokal Kaili, di mana “lana” berarti minyak dan “tumbavani” berarti sereh.
Proses produksi Lana Tumbavani menuntut kesabaran ekstra. Sereh wangi butuh waktu tanam delapan bulan sebelum panen perdana, dilanjutkan dengan siklus panen setiap tiga bulan. Rasionya pun sangat ketat: dari 200 kilogram daun sereh, hanya dihasilkan sekitar 200 mililiter minyak murni, tanpa setetes pun campuran aroma sintetis.
Rasio produksi yang kecil ini justru memunculkan eksklusivitas. Kualitas murni tanpa kompromi tersebut berhasil menarik minat pasar global. Pada 2024, meski skala produksinya belum menyentuh level industri besar, minyak esensial Lana Tumbavani sukses menembus pasar Amerika Serikat, Malaysia, dan Nepal.
Usaha ini perlahan berkembang dengan melahirkan produk turunan bernilai tinggi lainnya, seperti minyak pijat, sabun herbal berbahan kelor lokal, lilin dari lilin lebah (beeswax), hingga parfum padat (solid perfume). Setiap tetes produk yang dijual tidak sekadar menawarkan wangi relaksasi, melainkan membawa narasi besar tentang perjuangan memulihkan lahan dan memberdayakan komunitas.

Merawat Alam, Menumbuhkan Ekonomi Restoratif
Seiring melonjaknya permintaan global terhadap produk wellness yang berkelanjutan, tantangan terbesar Lana Tumbavani adalah menjaga kemurnian visi awalnya. Untuk memastikan usaha ini tidak melenceng menjadi eksploitasi alam, pendampingan dari lembaga Gampiri Interaksi menjadi sangat krusial.
Melalui program inkubasi GIAT 2.0, Gampiri Interaksi mendampingi BUMDes Pulu menata ulang struktur biaya, kapasitas produksi, dan strategi harga. Fokus utamanya pantang bergeser: bukan mengejar volume produksi yang masif, melainkan memastikan bisnis tetap berjalan di jalur ekonomi restoratif.
“Kami melihat ini sebagai praktik ekonomi restoratif, bukan bisnis konvensional. Alam dipulihkan, masyarakat bergerak, dan produk punya nilai yang jelas. Kalau salah satu dilepas, model ini runtuh,” tegas Nedya Sinintha Maulaning, perwakilan Gampiri Interaksi.
Dari kacamata lingkungan, penanaman sereh wangi di Desa Pulu telah berhasil menstabilkan lahan kritis seluas kurang dari satu hektare yang sebelumnya divonis tak lagi produktif. Pengamatan warga setempat juga mencatat adanya penurunan risiko banjir di area tersebut.
Menurut Nedya, pendekatan ini sengaja membalik logika pembangunan konvensional yang kerap merusak lingkungan demi keuntungan semata.
“Biasanya alam diperas dulu, baru ekonomi dibagi. Di sini justru alam dipulihkan dulu, baru ekonomi tumbuh. Itu yang membuatnya lebih tahan lama. Kalau lingkungannya tidak pulih, tidak akan ada produk dan tidak akan ada pendapatan,” papar Nedya.
Kisah dari Desa Pulu ini sejalan dengan visi Lingkar Temu Kabupaten Lestari (LTKL) sebagai asosiasi pemerintah kabupaten yang terus mendorong terwujudnya kemandirian daerah melalui model ekonomi restoratif.
Lana Tumbavani telah membuktikan sebuah teori nyata: lahan yang luluh lantak diamuk bencana bisa kembali menjadi tambang kehidupan, selama pemulihan alam dijadikan fondasi utama untuk bertumbuh.

.jpg)
.jpg)




