banner 728x250
Bisnis  

Investasi RI Semester I 2026 Capai Rp1.010 T, Serap 1,4 Juta Pekerja

Realisasi investasi Indonesia pada Semester I Tahun 2026 sukses menembus Rp1.010 triliun dan menyerap lebih dari 1,4 juta tenaga kerja, dengan sektor hilirisasi sebagai motor penggerak utamanya.

Jakarta, NusantaraGate.com – Kementerian Investasi dan Hilirisasi/Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) merilis data realisasi investasi Indonesia pada Semester I Tahun 2026 yang menembus angka Rp1.010,6 triliun. Capaian ini tumbuh 7,2 persen secara tahunan (Year-on-Year/YoY) dan berhasil menyerap hingga 1.448.862 tenaga kerja lokal.

​Angka realisasi tersebut telah memenuhi 49,5 persen dari total target nasional tahun 2026 yang dipatok sebesar Rp2.041,3 triliun. Secara triwulanan, investasi pada Triwulan II Tahun 2026 juga tercatat positif sebesar Rp511,8 triliun dengan penyerapan 742.293 pekerja.

​Menteri Investasi dan Hilirisasi/Kepala BKPM, Rosan P. Roeslani, menyampaikan bahwa capaian tersebut menunjukkan tingginya kepercayaan investor terhadap perekonomian Indonesia. Hal ini patut diapresiasi mengingat dunia masih menghadapi ketidakpastian ekonomi global, dinamika geopolitik, dan perubahan lanskap perdagangan.

​”Di kuartal kedua ini untuk pertama kalinya dalam sepuluh tahun terakhir Tiongkok investasinya lebih agresif melalui Hongkong sehingga posisi pertama dari PMA (Penanaman Modal Asing) di kuartal kedua ini ditempati oleh Hongkong dengan USD5 miliar,” jelas Menteri Rosan dalam keterangan tertulis, Minggu (19/7/2026).

​Realisasi investasi asing pada Triwulan II Tahun 2026 secara berurutan dipimpin oleh Hong Kong, disusul Singapura, Tiongkok, Jepang, dan Malaysia. Kelima negara tersebut menyumbang kontribusi sangat dominan yakni sebesar 79,6 persen terhadap total investasi asing di Tanah Air.

​Pada periode ini, Penanaman Modal Asing (PMA) tercatat memimpin sebesar Rp257,7 triliun atau 50,4 persen. Sementara itu, Penanaman Modal Dalam Negeri (PMDN) menempel ketat dengan raihan Rp254,1 triliun atau 49,6 persen.

​Dari sisi lokasi penyebaran, investasi di luar Pulau Jawa pada Triwulan II Tahun 2026 sukses mendominasi dengan nilai Rp256,5 triliun (50,1 persen). Angka ini sedikit mengungguli wilayah Pulau Jawa yang mencatatkan serapan investasi sebesar Rp255,3 triliun (49,9 persen).

​Data tersebut menjadi indikator positif yang menunjukkan semakin meratanya pemerataan ekosistem investasi di Indonesia. Berikut adalah rincian lima provinsi dengan serapan investasi terbesar pada Triwulan II 2026:

  • ​DKI Jakarta (Rp94,9 triliun)
  • ​Jawa Barat (Rp61,3 triliun)
  • ​Maluku Utara (Rp40,2 triliun)
  • ​Jawa Timur (Rp40,1 triliun)
  • ​Sulawesi Tengah (Rp36,6 triliun)

​Jika diakumulasikan sepanjang Semester I Tahun 2026, total PMA yang masuk mencapai Rp507,6 triliun dan PMDN berada di angka Rp502,9 triliun. Luar Pulau Jawa juga tetap mendominasi secara keseluruhan dengan total Rp507,8 triliun, lebih tinggi dari Pulau Jawa yang meraup Rp502,8 triliun.

​Berdasarkan sektor usaha, aliran modal masuk masih didominasi oleh Industri Logam Dasar, Barang Logam, dan Bukan Mesin. Sektor penyumbang berikutnya diikuti oleh Jasa Lainnya, Pertambangan, Transportasi dan Telekomunikasi, serta Perumahan dan Kawasan Industri.

​Hilirisasi Jadi Motor Penggerak Utama

​Pemerintah juga terus mendorong program hilirisasi sebagai strategi utama dalam transformasi ekonomi nasional. Sepanjang Semester I Tahun 2026, realisasi investasi sektor hilirisasi telah menyentuh angka Rp300,1 triliun atau setara 29,7 persen dari total investasi nasional.

​Investasi di sektor ini masih ditopang kuat oleh komoditas mineral, khususnya bauksit, nikel, tembaga, besi baja, dan pasir silika. Deretan komoditas tersebut diyakini menjadi mesin penggerak utama dalam upaya peningkatan nilai tambah industri nasional.

​“Realisasi investasi di bidang hilirisasi untuk triwulan kedua ini angkanya Rp152,7 triliun atau meningkat 5,7% (YoY), dan total realisasi investasinya ini hampir mencapai 30% atau 29,8% dari total realisasi investasi di triwulan kedua tahun 2026. Kalau kita lihat biasanya itu nikel yang menjadi nomor satu,” papar Rosan.

“Nah ini ada shifting, bauksit sekarang menjadi nomor satu. Karena memang ada beberapa pembangunan bauksit, baik yang dilakukan oleh penanam modal dalam negeri maupun luar negeri, sehingga bauksit untuk pertama kalinya mengambil tempat nomor satu. Tapi harapannya tetap ingin mendorong hilirisasi turunan dari kelapa sawit dan lain-lainnya,” tambahnya.

​Menteri Rosan menegaskan komitmen pemerintah untuk terus merawat momentum tren positif investasi di Indonesia. Langkah konkret yang disiapkan mencakup penyederhanaan izin usaha, penguatan ekosistem, percepatan kawasan industri, hingga peningkatan kualitas pelayanan prima bagi investor.

NusantaraGate.com Avatar

Gerbang informasi terkini seputar berita peristiwa di Indonesia dan mancanegara.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *